Jakarta, 5 November 2026— Peringatan Hari Santri 2026 lalu diarahkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran santri dalam pembangunan Indonesia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar resmi menetapkan tema Hari Santri tahun ini: “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2026 tentang Panduan Pelaksanaan Peringatan Hari Santri 2026.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kiprah dan pengabdian santri senantiasa relevan melintasi zaman. Jika sejarah mencatat pengorbanan santri dalam mempertahankan kemerdekaan pascaseruan Resolusi Jihad oleh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, perjuangan tersebut kini bertransformasi ke ranah pembangunan modern.
“’Menguatkan Negeri’ dimaknai dengan menghadirkan santri sebagai bagian dari solusi atas tantangan bangsa. Dari pesantren, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya memiliki kedalaman spiritual dan keluasan ilmu, tetapi juga berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, serta mampu memberikan kontribusi di berbagai bidang,” ujar Menag Nasaruddin Umar dalam panduan tersebut.
Menag menambahkan, frasa “Menuju Indonesia Emas” menjadi komitmen kolektif dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menjelang 2045. Santri didorong bertransformasi dari sekadar ruang pengabdian kultural menuju ruang-ruang strategis pembangunan nasional dengan berbekal nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menegaskan bahwa santri masa kini memegang peran penting melalui penguasaan teknologi dan keilmuan tanpa meninggalkan akar spiritualitas.
“81 tahun kemudian, santri menguatkan negeri lewat ilmu, teknologi, dan akhlak. Itulah semangat santri 2026: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas,” tegas Kamaruddin Amin.
Lebih lanjut, Kamaruddin menyoroti langkah konkret pemerintah dalam mendukung lompatan peran santri di kancah nasional.
“Bapak Presiden Prabowo membentuk Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama lewat Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026. Santri bisa menjadi ulama, bisa menjadi ilmuwan, bisa menjadi pengusaha, hingga pemimpin bangsa, dan negara membuka jalannya,” papar Kamaruddin.
Dengan berbekal nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin, santri diharapkan tidak hanya menjadi saksi perjalanan bangsa, melainkan tampil sebagai penggerak utama yang berdaya saing, berkeadaban, dan sejahtera.
